Welcome, Mom/Dad!
google_button Or please Login / Register!
Dongeng Time: Tiga Babi Kecil dan Serigala

Dongeng Time: Tiga Babi Kecil dan Serigala

Suatu ketika, ada seekor induk babi yang memiliki tiga anak babi kecil. Ia memiliki kesulitan untuk memberi mereka makan. Jadi, ketika mereka cukup dewasa, sang induk melepas mereka ke dunia untuk mencari peruntungan.

Ketiga babi itu kemudian membuat rumahnya masing-masing untuk bertahan hidup. Babi pertama hidup dengan malas, ia ingin membuat rumahnya dari jerami. Kemudian, ia bertemu dengan seorang pria yang membawa sedikit jerami.


“Permisi. Maukah anda menjual jerami ini agar saya bisa membuat rumah?”, tanya babi kecil pertama dengan sopan.


Pria itu langsung setuju dan babi kecil pertama pergi mencari tempat yang bagus untuk membangun rumahnya. 


Babi kecil yang kedua juga hidup malas, namun ia tidak mau membuat rumah dari jerami. Ia terus berjalan di sepanjang jalan dan bertemu dengan seorang pria yang membawa seikat batang kayu.


“Permisi. Maukah anda menjual beberapa batang kayu itu agar saya bisa membangun rumah?” tanya babi kedua.


Penjual kayu itu langsung setuju dan babi kecil kedua mengucapkan selamat tinggal kepada saudaranya.


Berbeda dengan babi kecil bungsu yang tidak memikirkan ide-ide seperti kakaknya. “Aku akan membangun rumah yang jauh lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat”, pikirnya.


Dia terus berjalan hingga bertemu dengan seorang pria dengan gerobak penuh batu bata.


“Permisi. Tolong, bisakah anda menjual beberapa batu bata ini agar saya bisa membangun rumah?”, tanya babi ketiga dengan sopan seperti yang diajarkan induknya.


“Oh, tentu saja! Dimana batu bata ini akan diletakkan?”, kata pria penjual batu bata itu.


Babi kecil ketiga melihat sekeliling dan melihat sebidang tanah yang bagus di bawah pohon. “Di sana”, dia menunjuk.


Ketiga babi kecil ini mulai bekerja dan pada malam hari rumah jerami dan rumah kayu telah selesai dibangun, tetapi rumah dari batu bata baru saja mulai berdiri di atas tanah. Babi kecil pertama dan kedua tertawa, mereka mengira saudara bungsunya benar-benar konyol karena harus bekerja sangat keras ketika kedua kakaknya sudah selesai.


Beberapa hari kemudian, rumah batu bata itu selesai dibangun dan terlihat sangat mewah dengan jendela mengkilap, cerobong asap kecil yang rapi, dan besi pengetuk pintu yang mengkilap.


Keesokan harinya, seekor serigala kebetulan melewati jalan setapak di mana tiga babi kecil itu tinggal, dan ia melihat rumah jerami dan mencium bau babi di dalamnya. Dia mengira babi itu akan menjadi makanan yang enak dan mulutnya mulai berair. Jadi, serigala itu mengetuk pintu dan berkata. “Babi kecil! Babi kecil! Biarkan aku masuk! Biarkan aku masuk!”. 


Tapi, babi kecil melihat cakar besar serigala melalui lubang kunci, jadi ia menjawab kembali, “Tidak! Tidak! Tidak! Aku akan tetap di sini!”.


Karena merasa kesal, kemudian serigala itu menunjukkan giginya dan berkata, “Dan aku akan menarik napasku, menghembuskannya, dan menghancurkan rumahmu!”.


Kemudian, serigala itu menarik napasnya dengan kuat, menghembuskan napasnya dengan kencang, dan ia menghancurkan rumah jerami si babi pertama. Serigala membuka rahangnya sangat lebar dan menggigit sekuat tenaga, tetapi babi kecil pertama lolos dan melarikan diri untuk bersembunyi bersama babi kecil kedua.


Serigala terus menyusuri jalan setapak dan ia melewati rumah babi kedua yang terbuat dari kayu. Ketika serigala melihat rumah itu, ia lagi-lagi mencium bau babi di dalamnya dan seketika mulutnya kembali berair saat memikirkan tentang makan malam enak yang akan ia buat.


Serigala pun kembali mengetuk pintu dan berkata, “Babi kecil! Babi Kecil! Biarkan aku masu! Biarkan aku masuk!”.


Babi kecil yang pertama mengatakan pada babi kedua untuk tidak membuka pintu itu. Jadi ia menjawab, “Tidak! Tidak! Tidak! Aku tak membiarkan ada bulu serigala masuk ke rumahku!”.


Serigala pun gusar dengan ucapan babi kecil kedua, ia kembali menunjukkan giginya dan berkata, “Dan aku akan menarik napasku, akan menghembuskannya, dan akan menghancurkan rumahmu!”.


Tanpa basa-basi, serigala itu menarik napasnya sekuat tenaga, ditiupkan ke rumah kayu itu, dan menghancurkannya hingga roboh. Namun, ketamakan dan kerakusan serigala yang mencoba menangkap kedua babi sekaligus membuatnya tidak berhasil mendapatkan keduanya.


Rahangnya yang besar tidak bisa menahan apapun kecuali udara karena kedua babi itu bergegas lari pergi secepat mungkin agar tidak ditangkap oleh serigala.


Tak tinggal diam, serigala mengejar kedua babi itu dan dia hampir menangkap mereka. Tapi, kedua babi itu berhasil sampai ke rumah babi ketiga yang terbuat dari bata, dan babi ketiga menutup pintu sebelum serigala bisa menangkap mereka.


Tiga babi kecil itu sangat ketakutan, mereka tak punya tempat untuk bersembunyi dari serigala yang ingin memakannya. Serigala menahan rasa laparnya sepanjang hari dan nafsu makannya tinggi untuk mengejar babi-babi dan sekarang ia bisa mencium bau ketiganya di dalamnya. Ia tahu bahwa ketiga babi itu akan menjadi pesta yang menyenangkan.


Jadi, serigala itu mengetuk dan berkata, “Babi kecil! Babi Kecil! Biarkan aku masuk! Biarkan aku masuk!”


Tapi, babi kecil ketiga mengintip dari lubang kunci dan melihat mata sipit serigala, ia pun ketakutan dan menjawab, “Tidak! Tidak! Tidak! Pergi kau dari sini!”.


Karena serigala berpikir bisa meruntuhkan dua rumah babi sebelumnya, ia pun melakukan hal yang sama pada rumah babi ketiga yang terbuat dari batu bata ini.


“Baiklah, aku akan menarik napasku lagi, menghembuskannya dengan sangat kencang, dan aku akan meledakkan rumahmu!”, ucap serigala mengancam babi kecil ketiga.


Serigala itu berulang kali menarik dan menghembuskan napasnya dengan kencang, berulang kali hingga akhirnya terengah-engah. Serigala tidak bisa meledakkan rumah itu. Akhirnya, ia kehabisan napas sehingga tidak bisa menarik napas dan tidak bisa menghembuskan napas lagi. Kemudian, ia berhenti untuk istirahat dan berpikir sebentar.


Ternyata serigala menemukan cara lain, yaitu lewat cerobong asap. Ia kemudian memanjat tangga yang ada di dekatnya untuk naik ke atap dan masuk lewat cerobong asap, tetapi babi kecil ketiga ini mendengar suara langkah kaki serigala di atapnya. Ia langsung bergegas memberitahu dua saudaranya untuk menyalakan api di tungku perapian untuk menghalangi serigala masuk.


Saat serigala masuk melalui cerobong asap rumah itu, ia merasakan sesuatu yang hangat di ekornya. Namun karena sangat lapar, ia tetap menuruni cerobong asap itu. Semakin dalam ia menuruninya, ekornya menjadi sangat panas dan tercium bau gosong.


Ternyata, ekor serigala itu terbakar api. Mengetahui ekornya terbakar, serigala itu memanjat keluar dari cerobong asap dan lari ke hutan. 


Sejak saat itu, ketiga babi kecil bersaudara itu hidup bahagia bersama selamanya di rumah bata mereka yang tahan angin dan serigala jahat tak pernah kembali.


Leave A Comment