Welcome, Mom/Dad!
google_button Or please Login / Register!
Dongeng Time: Singa yang Ingin Terbang

Dongeng Time: Singa yang Ingin Terbang

  • reifita
  • Article
  • 2025-05-17
  • 2658
  • 0
Di ujung barat sebuah sabana luas di Afrika, ada sebuah bukit kecil bernama Bukit Matahari. Dari sanalah hembusan angin paling sejuk terasa dan langit terlihat begitu luas, seperti kanvas biru tempat awan-awan putih bermain.

Setiap pagi, seekor singa muda bernama Leo duduk sendiri di puncaknya, menatap ke langit.


Leo bukan singa biasa. Ia masih muda, belum punya surai penuh seperti ayahnya, Raja Maximus. Tapi yang membuatnya benar-benar berbeda adalah mimpinya yang aneh bagi seekor singa: Leo ingin terbang.


Hari itu, seperti biasa, ia duduk di atas batu besar dan memandangi burung-burung yang terbang tinggi.


Leo: (berbisik pada dirinya sendiri) “Lihat mereka, bebas melayang, menari di udara... Aku juga ingin merasakan itu. Bukan hanya berlari dan mengaum di tanah.”


Seekor burung beo warna-warni terbang mendekat dan mendarat di bahu Leo. Ia adalah Rika, sahabat kecil Leo sejak ia masih anak-anak.


Rika: “Masih melamun soal terbang, Leo?”


Leo: (tersenyum kecil) “Apa salahnya bermimpi, Rika?”


Rika: “Tidak salah, hanya… kamu punya empat kaki, bukan dua sayap.”


Leo: “Kadang aku merasa hatiku lebih ringan dari tubuhku. Tapi tak pernah cukup untuk terangkat ke langit.”


Rika: “Kalau begitu, mari kita cari cara. Aku tak bisa diam melihat sahabatku sedih.”


Leo menatap Rika dengan harapan yang kembali menyala.


Leo: “Apa kau serius?”


Rika: “Tentu! Ada seseorang yang mungkin bisa membantu.”


Perjalanan ke Hutan Cipta


Di tengah hutan lebat yang terletak di sebelah utara sabana, tersembunyi sebuah tempat misterius bernama Hutan Cipta. Di sanalah tinggal makhluk-makhluk bijak yang dikenal memiliki pengetahuan kuno dan sihir ringan.


Perjalanan ke sana tidak mudah. Mereka melewati sungai berlumpur, gua kecil berisi kelelawar, dan malam-malam dingin yang sunyi. Namun Leo, yang biasanya takut air, melewati sungai dengan berani demi mimpinya.


Leo: (sambil melompat ke atas batu besar) “Semakin dekat kita ke hutan itu, hatiku semakin berdebar.”


Rika: “Itu tandanya kamu sedang mengejar sesuatu yang besar.”


Setelah tiga hari perjalanan, mereka tiba di tengah Hutan Cipta, di mana pohon-pohon menjulang seperti tiang istana, dan angin berbisik di sela-sela daunnya.


Di sana mereka bertemu Tuan Owlen, seekor burung hantu tua berjubah bulu putih abu-abu, yang tinggal di lubang pohon baobab tua.


Tuan Owlen: (suara dalam dan bergema) “Singa muda, kenapa kau datang ke tempat mimpi dan cipta?”


Leo: (dengan sopan, menunduk) “Aku ingin terbang, Tuan Owlen. Bukan karena aku ingin menjadi burung, tapi karena hatiku ingin melihat dunia dari atas.”


Owlen terdiam. Matanya yang besar menatap jauh ke dalam hati Leo, seolah mencari alasan yang lebih dalam.


Tuan Owlen: “Banyak yang datang ke sini minta kekuatan. Tapi kau datang dengan kerendahan hati. Baiklah, aku akan membantumu.”


Layang Ajaib


Tuan Owlen memanggil makhluk-makhluk kecil penghuni hutan: kelinci perajut, tupai pembuat tali, dan burung gereja pengumpul bulu. Bersama-sama, mereka menciptakan sebuah layang-layang raksasa berbentuk elang, dengan struktur kuat dari ranting ringan dan benang sulaman angin.


Tuan Owlen: “Ini adalah Layang Angin. Ia hanya bisa terbang jika pengendalinya memiliki jiwa yang benar-benar ringan dan penuh keyakinan.”


Leo menatap layang itu. Wajahnya campur aduk antara kagum dan gugup.


Leo: “Aku tidak tahu apakah aku cukup ringan…”


Rika: “Hatimu cukup ringan. Itu yang penting.”


Keesokan harinya, mereka menuju tebing landai di pinggir hutan. Angin berhembus kencang. Rika menggenggam tali dan memberi aba-aba.


Rika: “Lari, Leo! Percaya pada angin… dan pada dirimu sendiri!”


Leo berlari sekuat tenaga, dan saat angin menerpa layang, tubuhnya… terangkat! Mula-mula sedikit, lalu lebih tinggi. Leo melayang, tubuhnya terayun oleh angin, matanya terbuka lebar menatap dunia dari sudut yang belum pernah ia lihat.


Leo: (berteriak bahagia) “Aku terbang! Aku benar-benar terbang!”


Ia melihat sabana dari ketinggian, hewan-hewan kecil seperti semut, dan sungai berkilau seperti pita perak.


Setelah beberapa menit yang terasa seperti seumur hidup, ia perlahan turun, dan mendarat di atas rerumputan.


Singa Langit


Leo tidak lagi menjadi singa yang hanya berlari. Ia kini menjadi legenda. Anak-anak hewan datang untuk mendengar kisahnya. Ia disebut Singa Langit.


Namun, Leo tak pernah menyombongkan diri. Ia selalu menekankan bahwa semua itu berkat sahabatnya dan keberaniannya untuk bermimpi.


Leo: “Aku tidak punya sayap. Tapi aku punya mimpi, sahabat, dan semangat. Dan kadang, itu lebih dari cukup untuk membuatmu terbang.”


Leave A Comment