Welcome, Mom/Dad!
google_button Or please Login / Register!
Dongeng Time: Rumah di Ujung Pelangi

Dongeng Time: Rumah di Ujung Pelangi

  • reifita
  • Article
  • 2025-06-21
  • 2626
  • 0
Di sebuah desa kecil yang damai bernama Lembah Warna, tersembunyi sebuah legenda yang sudah diceritakan turun-temurun. Konon, di ujung pelangi, terdapat sebuah rumah ajaib yang hanya bisa dilihat oleh anak-anak berhati murni dan penuh rasa ingin tahu.

Pada suatu hari yang cerah setelah hujan reda, muncullah pelangi yang sangat indah. Warnanya begitu terang, seolah-olah menggantung langsung dari langit ke bumi. Di sinilah cerita kita dimulai…


Pelangi yang Membisik


“Waaah! Pelanginya cantik sekali!” seru Lila, gadis kecil berumur 7 tahun yang tinggal bersama neneknya di sebuah rumah kayu di tepi hutan.


Lila mengenakan gaun kuning berbunga dan membawa keranjang kecil berisi bunga liar yang baru ia petik dari ladang.


“Lihat, Nek! Pelanginya sampai ke tanah!” katanya sambil menunjuk ke arah ujung pelangi yang seolah menyentuh bukit di kejauhan.


Nenek tersenyum sambil menyesap tehnya.

“Itu hanya ilusi, Sayang. Tidak ada yang benar-benar bisa sampai ke ujung pelangi.”


Tapi Lila memiringkan kepala.

“Kalau begitu... kenapa aku merasa pelangi itu memanggilku?”


Langkah ke Dunia Ajaib


Malam itu, saat semua orang tertidur, Lila masih memikirkan pelangi itu. Ia mengintip dari jendela, dan betapa terkejutnya ia, pelangi itu masih ada!


“Mustahil,” bisiknya. “Pelangi tidak bertahan sampai malam…”


Dengan rasa penasaran yang membuncah, Lila mengambil senter kecil, mengenakan mantel, dan keluar diam-diam.


Langit malam tampak bersinar lembut, dan pelangi itu memendarkan cahaya seperti perak dan emas. Lila mengikuti cahaya itu menembus hutan, menyusuri jalan setapak yang belum pernah ia lewati sebelumnya.


Di tengah keheningan malam, terdengar bisikan lembut:


“Langkahkan kakimu, Lila… Rumah di ujung pelangi menunggumu…”


Teman di Jalan Pelangi


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa waktu, Lila tiba-tiba mendengar suara gemerisik. Dari balik semak-semak, muncullah seekor rubah berwarna biru yang mengenakan syal merah.


“Eh?! Seekor rubah?” Lila terkejut.


Rubah itu membungkuk sopan.

“Selamat malam, Nona Lila. Aku Rilo, penjaga pelangi. Kau terpilih untuk mengunjungi Rumah di Ujung Pelangi. Aku akan menuntunmu.”


“Bagaimana kamu tahu namaku?”


Rilo menyeringai, “Pelangi hanya muncul untuk anak-anak yang tulus. Dan pelangi mengenalmu.”


Lila menggenggam erat senternya.

“Baiklah. Kalau begitu… ayo kita berangkat!”


Rilo mengangguk. “Tapi pertama-tama, kita harus melewati Taman Warna-Warni, tempat semua warna pelangi tumbuh seperti bunga.”


Taman Warna-Warni


Taman Warna-Warni adalah tempat yang luar biasa. Tanahnya mengilap seperti kristal. Ada bunga merah yang bernyanyi, rumput oranye yang melompat-lompat, dan kupu-kupu biru yang membisikkan lelucon.


“Aku belum pernah melihat tempat seperti ini!” seru Lila dengan mata berbinar.


Sebuah bunga ungu membuka kelopaknya dan berseru: “Selamat datang, Lila! Kami sudah lama menunggumu!”


Lila tertawa. “Kenapa semua tahu namaku?”


Rilo menjelaskan, “Rumah di Ujung Pelangi hanya bisa ditemukan oleh mereka yang membawa warna dalam hatinya. Dan warnamu… bersinar sangat terang.”


Tiba-tiba langit berkedip, dan Rilo berkata, “Ayo cepat! Pelanginya mulai pudar. Kita harus tiba sebelum fajar!”


Jembatan Cahaya dan Bayangan


Mereka tiba di sebuah sungai yang memisahkan taman dengan ujung pelangi. Di sana terbentang sebuah jembatan cahaya, namun di sekelilingnya berkumpul Bayangan Kelabu, makhluk gelap yang suka mencuri warna.


Bayangan itu bergumam, “Anak kecil… warnamu milik kami…”


Lila menatap mereka dengan berani.

“Kalian tidak bisa mengambil warna dari hati yang murni!”


Ia menyalakan senternya dan sinarnya menyilaukan. Bayangan Kelabu mundur, mendesis, dan akhirnya menghilang.


Rilo terkagum.

“Kau luar biasa, Lila. Ayo, kita menyeberang!”


Jembatan itu berkilauan di bawah langkah mereka. Lila merasa seperti berjalan di bintang-bintang.


Rumah di Ujung Pelangi


Akhirnya, mereka tiba di sebuah bukit yang diselimuti kabut berwarna. Di puncaknya berdiri sebuah rumah mungil berwarna putih mutiara dengan atap pelangi.


Pintu rumah terbuka sendiri dan terdengar suara lembut:

“Selamat datang, Lila…”


Di dalam rumah, semuanya terbuat dari warna: kursi biru tertawa saat diduduki, meja hijau menceritakan cerita, dan teko merah muda menyajikan cokelat hangat.


Seorang perempuan cantik dengan rambut berkilau seperti pelangi menyambutnya.

“Aku Nyai Pelangi. Rumah ini hanya bisa dikunjungi oleh anak-anak yang percaya pada keajaiban.”


Lila memandangi sekeliling. “Tapi kenapa aku yang terpilih?”


Nyai Pelangi tersenyum.

“Karena hatimu penuh warna: berani, baik, ingin tahu, dan jujur. Kau telah menyelamatkan pelangi dari kegelapan.”


Hadiah dari Pelangi


Sebelum Lila pulang, Nyai Pelangi memberikannya sebuah butiran cahaya kecil dalam botol.


“Ini adalah cahaya dari hatimu sendiri. Jika suatu hari dunia terasa kelabu, bukalah ini… dan warnamu akan kembali.”


Rilo mengantar Lila pulang melewati jalan cahaya yang sama. Ketika Lila membuka matanya, ia sudah berada kembali di kamarnya. Pelangi sudah menghilang, tapi di jendela, botol kecil itu masih bersinar.


Penutup


Sejak hari itu, Lila tumbuh menjadi gadis yang selalu menyebarkan warna: dengan senyuman, kebaikan, dan cerita-cerita ajaib yang ia bawa dari Rumah di Ujung Pelangi.


Dan konon… jika kamu melihat pelangi yang sangat terang dan mendengar bisikan lembut di angin, mungkin… hanya mungkin… kamu pun bisa menemukannya.


Leave A Comment