Welcome, Mom/Dad!
google_button Or please Login / Register!
Dongeng Time: Peri Bunga dan Embun Pagi

Dongeng Time: Peri Bunga dan Embun Pagi

  • reifita
  • Article
  • 2025-06-28
  • 2738
  • 0
Di sebuah lembah tersembunyi di kaki Gunung Awan, terdapat sebuah taman yang sangat indah. Bunga-bunga berwarna-warni tumbuh subur, burung-burung bernyanyi riang, dan kupu-kupu menari di udara. Tapi yang membuat taman itu istimewa adalah karena ia dijaga oleh seorang peri kecil bernama Floria, Peri Bunga.

Floria tinggal di dalam sebuah kelopak mawar merah muda yang besar. Setiap pagi, ia bangun sebelum matahari terbit untuk membangunkan bunga-bunga dan membantu embun turun dengan lembut.


Suatu pagi, langit tampak sedikit mendung. Floria menggosok matanya dan terbang keluar dari kelopak mawarnya.


Floria: "Hmm... sepertinya pagi ini berbeda. Di mana embunnya? Biasanya dedaunan sudah berkilauan saat aku bangun."


Floria terbang ke atas, melintasi taman, dan melihat bahwa seluruh bunga tampak sedikit muram.


Bunga Daisy: "Pagi, Floria... apakah embunnya belum datang hari ini?"


Floria: "Belum... dan aku juga bingung ke mana Embun Pagi pergi."


Embun Pagi adalah makhluk kecil seperti kristal air yang selalu datang setiap pagi dan menari di atas bunga dan daun, membawa kesejukan dan kesegaran. Ia adalah sahabat dekat Floria.


Floria pun memutuskan untuk mencari Embun Pagi. Ia terbang ke ujung lembah, ke tempat di mana biasanya Embun Pagi menunggu matahari.


Floria: "Embun Pagi! Di mana kau? Ini sudah saatnya kau menari di atas bunga!"


Tak ada jawaban. Tapi kemudian, terdengar suara lembut dari balik semak-semak.


Embun Pagi (pelan): "Aku di sini, Floria..."


Floria mendekat dan menemukan Embun Pagi meringkuk di balik daun besar. Tubuhnya terlihat kusam, dan ia tampak lelah.


Floria (cemas): "Embun! Apa yang terjadi padamu? Mengapa kau tidak turun seperti biasanya?"


Embun Pagi: "Aku... aku merasa terlalu lemah hari ini. Awan-awan mendung di langit menutup sinar bulan semalam, dan aku tidak mendapat cukup energi untuk membentuk titik-titik embun."


Floria mengangguk mengerti. Ia tahu bahwa Embun Pagi mendapatkan kekuatannya dari cahaya bulan dan udara segar malam. Jika malam terlalu mendung, ia akan kehilangan tenaga.


Floria: "Kau tidak sendiri, Embun. Aku akan membantumu."


Floria lalu terbang cepat ke arah danau kecil di dekat taman. Ia memetik kelopak teratai yang paling lembut, mengisinya dengan air jernih dan sinar pagi yang berhasil menembus awan. Ia kembali dengan kelopak itu dan menuangkannya ke tubuh Embun Pagi.


Floria (lembut): "Minumlah. Ini air dari danau cahaya. Mungkin bisa memulihkanmu."


Embun Pagi menyerap air itu perlahan, dan tubuhnya mulai bersinar lembut kembali.


Embun Pagi (tersenyum): "Aku merasa sedikit lebih baik... terima kasih, Floria."


Floria: "Ayo kita ke taman. Bunga-bunga menunggumu."


Dengan perlahan, Embun Pagi mulai terbang, dan Floria menemaninya. Saat mereka tiba di taman, sinar matahari mulai menerobos awan, dan seberkas cahaya jatuh tepat ke tengah taman.


Embun Pagi menari di atas daun dan kelopak bunga, meninggalkan tetes-tetes bening yang berkilauan seperti mutiara. Bunga-bunga langsung merekah cerah.


Bunga Matahari: "Yay! Embun Pagi kembali!"


Bunga Lavender: "Rasanya segar sekali. Terima kasih, Embun!"


Embun Pagi tersenyum malu-malu, dan Floria berdiri di sampingnya sambil tersenyum puas.


Floria: "Terkadang, bahkan embun yang paling lembut pun butuh bantuan. Dan aku akan selalu ada untukmu."


Sejak hari itu, Floria selalu memastikan Embun Pagi mendapat cukup sinar bulan dan istirahat sebelum pagi tiba. Mereka tetap menjadi sahabat, dan taman itu tumbuh makin indah karena kasih sayang di antara mereka.


Leave A Comment