Welcome, Mom/Dad!
google_button Or please Login / Register!
Dongeng Time: Si Bunga Matahari dan Angin

Dongeng Time: Si Bunga Matahari dan Angin

  • reifita
  • Article
  • 2025-08-09
  • 2219
  • 0
Di sebuah padang luas yang penuh warna-warni, tumbuhlah bunga-bunga yang indah.

Di antara mereka, berdiri dengan megah dan cerah seekor bunga matahari bernama Suri. Suri adalah bunga yang tinggi, ceria, dan selalu tersenyum mengikuti cahaya matahari setiap hari.


Namun, tidak jauh dari padang itu, tinggallah Angin Timur, yang suka berhembus ke mana saja. Ia bebas, lincah, dan penuh rasa ingin tahu.


Awal Pertemuan


Suatu pagi yang cerah, ketika embun masih menggantung di ujung daun, Angin Timur berhembus pelan-pelan ke arah padang bunga.


"Fiuuuuh... Hmm, harum sekali di sini!" ucap Angin sambil menari di antara kelopak bunga.


Suri mengangkat sedikit kelopaknya dan tersenyum, "Hai, siapa kamu? Kau belum pernah ke sini sebelumnya."


Angin berputar-putar riang di sekitar Suri. "Aku Angin Timur! Aku suka berkeliling dunia. Hari ini aku mampir ke padang indah ini."


Suri tertawa kecil, "Namaku Suri. Aku bunga matahari. Senang mengenalmu, Angin."


"Senang bertemu juga denganmu, Suri! Bolehkah aku meniupmu sedikit? Hanya untuk bermain-main?"


Suri ragu-ragu. "Hm, aku tidak terlalu suka ditiup angin kencang. Batangku bisa patah."


Angin tersenyum, "Tenang saja, aku akan sangat lembut."


Permainan yang Kebablasan


Awalnya, Angin berhembus lembut. Suri tertawa geli saat daunnya bergoyang perlahan.


"Hi hi hi! Itu lucu, Angin!" kata Suri sambil menikmati hembusan sejuk.


"Kan sudah kubilang! Aku pandai bermain!" kata Angin bangga.


Tapi semakin lama, Angin mulai bersemangat. Ia bertiup lebih kencang.


"Fiuuuuh! Fiiuuuuuuuh!" tiupnya.


"S-stt… Angin! Pelan-pelan! Daunku mulai terbang!" teriak Suri panik.


Angin tertawa. "Ayo, main lebih seru lagi!"


Namun, angin bertiup semakin kencang hingga kelopak Suri mulai terlepas satu demi satu.


"Berhenti, Angin! Aku tidak kuat lagi!" teriak Suri dengan suara gemetar.


Baru saat itu Angin sadar. Ia segera berhenti dan menurunkan hembusannya.


"O-oh... Maafkan aku, Suri," ucap Angin lirih. "Aku hanya ingin bermain. Aku tak bermaksud menyakitimu."


Suri menundukkan kepala. Beberapa kelopaknya rusak, dan batangnya sedikit miring.


"Aku tahu kau hanya ingin bersenang-senang, tapi aku ini bunga, Angin. Aku tak bisa kuat seperti pepohonan."


Belajar Memahami


Angin merasa sangat bersalah. Ia duduk diam (sebisa mungkin angin duduk) di samping Suri.


"Apa yang bisa kulakukan untuk memperbaikinya?" tanya Angin.


Suri tersenyum tipis. "Temani aku. Jangan bertiup terlalu keras. Hembusan lembutmu bisa mengusir serangga pengganggu dan membuatku merasa sejuk."


Sejak hari itu, Angin belajar mengendalikan kekuatannya. Ia berhembus pelan setiap pagi, menyanyikan lagu lembut untuk Suri.


"Fiuuu... fiuuu... bangun, Suri... matahari sudah datang," bisik Angin setiap fajar.


Dan Suri pun tersenyum, membuka kelopaknya, dan menyapa matahari dengan lembut.


"Terima kasih, Angin. Sekarang aku bisa tumbuh dengan damai bersamamu."


Dari situlah, padang bunga itu menjadi lebih indah. Angin dan Bunga Matahari bersahabat erat. Mereka saling belajar: Suri belajar memaafkan, dan Angin belajar mengerti.


Dan setiap anak yang bermain di padang itu bisa melihat betapa damainya angin yang berhembus di antara bunga-bunga yang menari pelan, terutama di sekitar si Bunga Matahari bernama Suri.

Leave A Comment