Welcome, Mom/Dad!
google_button Or please Login / Register!
Dongeng Time: Si Tupai yang Belajar Berbagi

Dongeng Time: Si Tupai yang Belajar Berbagi

  • reifita
  • Article
  • 2025-12-20
  • 1126
  • 0
Di tengah hutan yang rimbun dan damai, hiduplah seekor tupai kecil bernama Tepi. Tubuhnya mungil, bulunya cokelat keemasan, dan ekornya mengembang seperti kipas kecil. Tepi dikenal lincah, ceria, dan cepat, tetapi… ada satu sifatnya yang sering membuat teman-temannya bingung.

Tepi sangat suka menyimpan makanannya sendiri, terutama kacang-kacang yang ia kumpulkan setiap hari. Ia menimbun kacang itu di dalam lubang pohon rumahnya sampai penuh. Kadang-kadang, begitu penuh sampai kacang-kacangnya tumpah keluar dari pintu rumahnya yang sempit.


Padahal, di hutan, semua hewan tumbuh dengan kebiasaan saling berbagi.


Bab 1: Tepi dan Tumpukan Kacang


Pagi itu, Tepi melompat-lompat di antara ranting. Ia baru saja menemukan pohon kenari besar yang buahnya masak semua.


“Wahhh! Ini banyak sekali!” seru Tepi sambil memungut kacang satu per satu.

Tok! Tok! Tok!

Ia menjatuhkan kacang dari dahan ke kantong kecil di punggungnya.


Tak lama kemudian, datanglah si Kelinci Putih, Lalo, dengan mata berbinar.


“Pagi, Tepi!” sapa Lalo riang.

“Pagi, Lalo! Aku sedang panen kacang banyak sekali!” jawab Tepi bangga.


Lalo melihat kacang-kacang itu dengan kagum. “Boleh aku minta satu? Hanya satu saja. Aku belum sarapan.”


Tepi langsung memeluk kantong kacangnya erat-erat.

“Tidak boleh!” serunya cepat. “Ini untuk persediaanku. Aku sudah capek mengumpulkannya. Minta saja sama pohon lain!”


Lalo terdiam. Ia tidak marah, tapi tampak kecewa.

“Oh… baiklah. Aku pergi dulu,” katanya lirih.


Tepi tidak terlalu memikirkan hal itu. Ia hanya terus membawa kacang-kacangnya pulang dan menumpuknya di dalam rumah kecilnya.


Bab 2: Rumah yang Penuh dan Teman yang Menjauh


Semakin hari, semakin banyak kacang yang dikumpulkan Tepi. Setiap pagi ia bekerja, setiap malam ia menambah tumpukan kacang, sampai akhirnya rumah pohonnya menjadi begitu penuh. Suatu malam, ketika ia hendak tidur…


Kraaaak!

Salah satu papan lantai rumahnya retak karena terlalu banyak kacang.


“Astaga!” teriak Tepi sambil memeluk ekornya. “Kenapa selalu rusak?!”


Keesokan paginya ia meminta bantuan Burung Tukang Kayu, Poko, untuk memperbaiki lantainya.


“Tepi…” kata Poko sambil menggeleng. “Masalah rumahmu bukan karena kayunya jelek, tapi karena kacangmu terlalu banyak. Kenapa tidak kau berikan sebagian kepada teman-temanmu?”


Tepi mengerucutkan bibir.

“Tidak mau! Itu kan punyaku!”


Poko menghela nafas. “Kalau kamu terus begini, suatu hari kamu sendiri yang akan kerepotan.”


Tapi Tepi tak mau mendengar.


Di hutan, teman-temannya mulai enggan bermain dengannya.

Lalo tidak lagi mengajaknya balapan.

Burung-burung tidak lagi bersiul memanggil namanya.

Bahkan si Kura-kura senang, Ona, berjalan melewatinya tanpa menyapa.


Tepi mulai merasa sepi.


Bab 3: Hujan Besar dan Kekacauan


Suatu sore, langit mendung pekat. Angin menderu, dedaunan berjatuhan, dan suara petir menggulung di kejauhan.


Duar!

Hujan pun turun dengan sangat lebat.


Tepi bergegas masuk ke rumahnya. Tetapi karena rumahnya penuh kacang, ia sulit menutup pintu.


“Susah sekali! Argh!” keluhnya sambil mendorong tumpukan kacang.


Tiba-tiba…

KRAAAAKKK!


Angin besar mendorong batang pohon hingga rumah Tepi bergetar keras. Pintu yang belum tertutup rapat terbuka lebar. Angin menerpa tumpukan kacang di dalam rumah.


BRUUK! BRUAAK!

Kacang-kacang itu berguling, meluncur keluar, terbawa angin dan hujan seperti hujan batu kecil.


“Tidak! Kacang-kacangku!” teriak Tepi panik.


Ia mencoba menahan kacangnya dengan kedua tangannya, tapi angin terlalu kuat. Hampir semua kacangnya jatuh dari pohon dan hanyut ke aliran sungai. Tepi jatuh terduduk di depan pintu rumahnya.


“Aku… aku kehilangan semuanya…” katanya parau.


Bab 4: Pertolongan dari Teman-teman


Saat hujan mulai reda, terdengarlah suara lembut dari bawah pohon.


“Tepi? Kamu tidak apa-apa?”


Itu suara Lalo. Di sampingnya berdiri Poko dan Ona.


Tepi tersentak. “Kalian tidak marah padaku?”


Lalo tersenyum lembut. “Kenapa kami harus marah? Kamu teman kami.”


“Tapi… aku pelit… aku tidak pernah berbagi… dan aku—” suara Tepi pecah. “Aku kehilangan semua kacangku…”


Ona yang lamban tetapi bijaksana berkata, “Semua orang bisa berubah, Tepi. Yang penting kamu mau mencoba.”


Lalo menambahkan, “Dan untuk sekarang, kami bisa membantumu mencari makanan. Bersama-sama.”


Tepi menatap mereka dengan mata berkaca-kaca.

“Kalian… benar-benar mau membantu?”


“Tentu,” jawab Poko sambil mengangguk. “Tapi nanti, kalau kamu sudah punya banyak lagi, kamu mau berbagi dengan kami?”


Tepi mengangguk cepat.

“Iya! Aku janji! Aku benar-benar ingin belajar berbagi!”


Bab 5: Hari Berbagi Pertama


Esoknya, matahari bersinar hangat. Setelah sarapan bersama yang dibawa oleh Lalo dan Poko, mereka bertiga pergi ke hutan mencari kacang baru.


Kali ini, Tepi tidak melompat terlalu cepat. Ia berjalan dekat teman-temannya, mendengarkan arahan mereka. Ketika mereka menemukan pohon kenari baru, Tepi memanggil yang lain.


“Hai! Di sini ada banyak! Ayo kita ambil bersama!”


Poko menepuk sayapnya. “Begitu lebih baik!”


Sepanjang hari mereka memungut kacang bersama. Saat pulang, Tepi menaruh sebagian kacangnya di rumah, dan sisanya ia letakkan dalam keranjang kecil untuk teman-temannya.


“Ini untuk kalian!” kata Tepi.


Lalo tersenyum lebar. “Tepi, kamu hebat! Ini pertama kalinya kamu memberi kami kacang.”


Tepi mengangguk, merasakan kehangatan yang aneh tapi menyenangkan di dadanya.


“Berbagi itu… rasanya enak juga,” katanya malu-malu.


Teman-temannya tertawa kecil.


Bab 6: Hutan yang Kembali Ramai


Sejak hari itu, Tepi menjadi tupai yang paling suka berbagi. Jika ia menemukan buah lezat, ia memanggil teman-temannya. Jika ia memiliki cadangan makanan, ia menyimpannya secukupnya dan membagikan sisanya.


Rumahnya tidak pernah penuh sesak lagi. Hatinya pun terasa lebih ringan dan bahagia.


Suatu sore, saat mereka makan bersama di bawah pohon besar, Tepi berkata:


“Teman-teman… terima kasih sudah membantuku waktu aku kehilangan kacang. Dan terima kasih sudah mau jadi temanku walau aku dulu pelit.”


Lalo tersenyum sambil memeluknya. “Persahabatan tidak dihitung dari berapa banyak yang kamu punya, tapi dari seberapa besar hatimu.”


Tepi mengangguk. “Dan hatiku akan terus belajar berbagi.”


Mereka pun tertawa bersama, ditemani kicau burung dan sinar matahari yang menembus dedaunan. Hutan kembali penuh canda, karena seekor tupai kecil telah belajar arti berbagi.

Leave A Comment