Welcome, Mom/Dad!
google_button Or please Login / Register!
Dongeng Time: Burung Pipit dan Biji Emas

Dongeng Time: Burung Pipit dan Biji Emas

Di sebuah padang hijau yang luas, tempat rumput bergoyang lembut tertiup angin dan bunga-bunga kecil bermekaran di antara semak, hiduplah seekor burung kecil bernama Pipit. Tubuhnya mungil, bulunya berwarna coklat keemasan, dan matanya berkilau penuh rasa ingin tahu.

Setiap pagi, Pipit bangun lebih awal dari burung lainnya. Ia suka duduk di dahan tertinggi pohon akasia dan mengamati matahari yang perlahan naik, membuat seluruh padang tampak berkilau.


Bab 1 — Penemuan Aneh di Padang Rumput


Suatu pagi, saat Pipit mencari sarapan berupa biji-bijian kecil, ia melihat sesuatu yang aneh di balik rerumputan.


“Hmm? Apa itu?” bisik Pipit sambil melongokkan kepala.


Ia terbang turun dan menemukan sebutir biji yang berbeda dari biji biasanya. Biji itu bersinar keemasan, mengeluarkan cahaya lembut yang berkilau meski matahari baru muncul.


“Waaah… indah sekali!” seru Pipit sambil mematuk lembut biji itu untuk memastikan apakah itu nyata. “Apakah ini makanan? Atau… sesuatu yang ajaib?”


Saat Pipit mendekatkan biji itu ke cahaya matahari, permukaannya yang halus memantulkan warna-warni seperti pelangi kecil.


Namun tiba-tiba…


“Tolong… jangan buang aku…”


Pipit tersentak. “Si… siapa itu?!”


Suara kecil dan lembut itu ternyata berasal dari dalam biji emas.


Bab 2 — Biji Emas yang Bisa Bicara


“Aku… aku biji ajaib,” kata suara itu lirih. “Namaku Biji Emas Anuri. Tolong… tanamkan aku di tempat yang tepat.”


Pipit memiringkan kepalanya. “Kau hidup? Tapi… kenapa aku harus menanamkanmu?”


“Aku bisa tumbuh menjadi sesuatu yang sangat istimewa,” jawab Anuri. “Tapi hanya jika aku dirawat dengan hati yang tulus.”


Pipit bingung. “Aku bukan burung besar atau kuat. Aku hanya Pipit kecil. Bagaimana aku bisa merawatmu?”


“Tulus tak perlu besar. Kau hanya perlu mencoba,” kata biji itu lembut.


Pipit terdiam, lalu tersenyum. “Baiklah, Anuri! Aku akan menanammu.”


Bab 3 — Perjalanan ke Tanah yang Tepat


Pipit mencoba mengangkat Biji Emas, tapi ukurannya cukup besar untuk tubuh kecilnya.


“Aduh… berat juga…” keluh Pipit sambil berusaha mematuknya.


“Pipit, kau tak apa?” tanya Anuri dari dalam biji.


“Aku baik. Kita harus mencari tanah terbaik untukmu!”


Pipit terbang rendah sambil mendorong biji itu dengan paruh dan kakinya. Kadang ia terguling bersama bijinya. Tapi ia tidak menyerah.


Dalam perjalanan…


“Heh! Apa itu yang kau dorong, Pipit?” Seekor burung gagak besar tiba-tiba mendarat. Namanya Gagak Kra.


Pipit mundur sedikit. “Halo, Kra… ini Biji Emas. Aku ingin menanamnya.”


Kra tertawa. “Biji Emas? Kau mau makan emas? Burung kecil sepertimu tak butuh emas!”


“Aku tidak memakan emas!” Pipit merespons cepat. “Aku ingin menanamnya agar tumbuh menjadi sesuatu yang indah.”


“Lucu kamu,” cibir Kra. “Tapi… hati-hati. Kalau biji itu berharga, banyak yang ingin merebutnya.”


Pipit menggigil. “Kra, kau tidak mau mengambilnya, kan?”


Kra tersenyum kecil. “Hari ini tidak. Aku hanya menonton.”


Pipit menelan ludah. Ia mendorong biji itu cepat-cepat menjauh dari Kra.


Bab 4 — Ditolong Angin dan Air


Saat Pipit hampir putus asa karena lelah, tiba-tiba angin berhembus lembut.


“Fuuuuuu…”


Tanpa diduga, angin mendorong tubuh Pipit dan bijinya. “Eh? Siapa itu?” tanya Pipit.


“Aku Angin Lira,” jawab suara lembut dari hembusan itu. “Aku membantumu karena niatmu baik.”


Pipit tertawa senang. “Terima kasih, Lira!”


Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah cekungan tanah yang lembut, dekat mata air jernih.


“Di sini…” bisik Biji Emas. “Tanamkan aku di sini.”


Bab 5 — Menanam Biji Harapan


Pipit mulai menggali tanah menggunakan paruh dan kakinya. “Uh… uh… susah juga…”


Tanah menempel di bulu-bulunya. Paruhnya penuh debu. Tapi ia terus menggali sampai terbentuk lubang kecil.


“Sudah! Masuklah, Anuri,” kata Pipit sambil mendorong bijinya masuk.


Setelah biji itu berada di dalam, Pipit menutupnya dengan tanah, lalu mengambil air dari mata air menggunakan dedaunan kecil.


“Ini air untukmu… semoga kau tumbuh,” katanya lembut.


“Terima kasih, Pipit…” suara Anuri semakin pelan.

“Besok… lihat aku…”


Bab 6 — Keajaiban Kecil yang Tumbuh


Keesokan paginya, Pipit terbang kembali ke tempat itu. Ia terkejut melihat sesuatu muncul dari tanah: Setangkai tunas kecil berwarna emas kehijauan.


“Anuri! Kau tumbuh!” teriak Pipit senang.


Tunas itu bergerak sedikit, seolah membungkuk. “Berkatmu… Pipit…”


Setiap hari, Pipit datang membawa air, menyingkirkan rumput liar, dan melindungi tunas itu dari serangga. Dalam beberapa minggu, tunas itu tumbuh menjadi pohon kecil dengan daun berkilau seperti emas.


Bab 7 — Masalah Besar Datang


Suatu sore…


“Wah, wah, wah… apa ini?”


Kra datang lagi, bersama dua gagak lain. “Pohon emas? Kau pikir bisa menyembunyikan ini dariku, Pipit?”


Pipit berdiri tegap di depan pohon kecil itu. “Jangan sentuh Anuri!”


Kra tertawa keras. “Kau pikir burung kecil seperti kau bisa menghentikan kami?”


Tiba-tiba. Angin Lira berhembus kuat.


“Fuuuuuuu!!!”


Kra dan teman-temannya terlempar mundur. “Apa-apaan itu?!” teriak Kra.


Lalu dari mata air, gelombang kecil muncul. Suara Air Mira terdengar, “Pergilah, Gagak serakah. Pohon ini tumbuh dari hati yang tulus.”


Kra ketakutan. “A-aku akan kembali!” katanya sembari terbang terburu-buru.


Bab 8 — Pohon Harapan


Beberapa bulan kemudian, pohon itu tumbuh semakin besar. Cabangnya mengeluarkan cahaya lembut, dan buah-buah kecil berwarna emas menggantung seperti lentera mini.


“Anuri… kau indah sekali…” kata Pipit.


“Semua ini berkat ketulusanmu,” jawab pohon itu. “Buahku bukan untuk dimakan. Tapi jika seseorang menyentuhnya dengan hati baik, mereka akan mendapat harapan baru.”


Pipit memandang buah itu dengan mata berbinar. “Jadi… siapa yang bisa mengambilnya?”


“Siapa saja, selama hatinya tidak untuk serakah.”


Bab 9 — Harapan untuk Seluruh Padang


Kabar pohon emas menyebar. Bukan kabar tentang emas yang berharga, tapi tentang buah harapan.


Banyak hewan kecil datang: kelinci, tupai, burung puyuh, landak… semua ingin merasakan kehangatan dari pohon itu. Pohon Anuri bersinar lembut, memberi ketenangan pada siapa pun yang datang dekat.


Pipit bangga. “Aku hanya burung kecil… tapi aku bisa menanam harapan besar.”


Angin Lira berbisik, “Itulah kekuatan kebaikan kecil.”


Bab 10 — Pipit, Penjaga Harapan


Sejak hari itu, Pipit dikenal sebagai Penjaga Pohon Harapan. Ia membuat sarangnya di cabang pohon Anuri. Setiap pagi ia bernyanyi, membuat buah-buah emas berkelip seperti bintang.


Dan setiap kali ada yang datang mencari harapan, Pipit berkata: “Sentuhlah dengan hati yang baik… maka cahaya Anuri akan menyertaimu.”


Pohon Anuri tersenyum melalui cahaya lembutnya. “Terima kasih, Pipit kecil.”


Pipit menjawab ceria, “Kita tumbuh bersama, Anuri!”

Leave A Comment