Welcome, Mom/Dad!
google_button Or please Login / Register!
Dongeng Time: Ratu Lebah dan Sahabat Kecilnya

Dongeng Time: Ratu Lebah dan Sahabat Kecilnya

Di sebuah lembah bunga yang luas dan berwarna-warni, hiduplah ribuan lebah yang rajin.

Mereka tinggal di sebuah sarang besar berbentuk istana madu yang menggantung di pohon akasia tertua. Di sanalah bersemayam Ratu Lebah bernama Ratu Melira, pemimpin yang bijaksana dan penuh kasih.


Setiap pagi, cahaya matahari menyinari bunga-bunga, dan dengungan lebah terdengar seperti lagu alam yang indah.


Ratu yang Bijaksana


Di dalam istana madu, Ratu Melira berdiri di atas singgasananya yang berkilau.


“Selamat pagi, anak-anakku,” ucap Ratu Melira lembut.


“Selamat pagi, Ratu!” jawab para lebah serempak.


Di antara ribuan lebah itu, ada tiga sahabat kecil yang selalu bersama:


Lumi, lebah kecil yang ceria dan penuh rasa ingin tahu

Bimo, lebah jantan yang kuat namun sangat penakut

Tara, lebah betina yang cerdas dan gemar membaca peta bunga


Mereka bukan lebah istimewa, tetapi mereka memiliki hati yang besar.


Masalah di Lembah Bunga


Suatu hari, Tara terbang tergesa-gesa ke istana madu.


“Ratu Melira!” serunya cemas.

“Apa yang terjadi, Tara?” tanya sang ratu.


“Bunga-bunga di Lembah Selatan mulai layu. Nektarnya mengering,” jelas Tara.


Para lebah mulai berbisik-bisik panik.


“Kalau begitu, persediaan madu kita akan berkurang,” ujar Bimo dengan suara gemetar.

“Kita harus membantu!” kata Lumi bersemangat.


Ratu Melira mengangguk pelan.

“Kita membutuhkan relawan untuk mencari sumber bunga baru dan menolong Lembah Selatan.”


Semua lebah saling pandang. Perjalanan itu jauh dan berbahaya.


Dengan ragu namun mantap, Lumi maju.

“Kami bertiga siap, Ratu.”


Bimo menelan ludah.

“E-emm… iya… siap,” katanya meski sayapnya bergetar.


Tara tersenyum yakin.

“Kami akan kembali membawa kabar baik.”


Ratu Melira menatap mereka penuh harap.

“Hati-hati, sahabat kecilku. Ingat, kekuatan terbesar adalah kerja sama.”


Perjalanan yang Penuh Tantangan


Mereka terbang melewati hutan gelap dan sungai berkilau. Tiba-tiba angin kencang datang.


“Aaah!” teriak Bimo.

“Pegang aku!” Lumi berteriak sambil meraih kaki Bimo.


Tara berteriak, “Ikuti arah angin! Jangan melawan!”


Dengan susah payah, mereka berhasil mendarat di dahan pohon.


Bimo terengah-engah.

“Aku takut… mungkin aku tidak cocok untuk misi ini.”


Lumi menepuk bahunya.

“Kamu berani karena tetap bertahan meski takut.”


Tara mengangguk.

“Keberanian bukan berarti tidak takut, tapi tetap melangkah.”


Bimo tersenyum kecil.

“Terima kasih… aku akan mencoba lagi.”


Sahabat Baru


Di dekat Lembah Selatan, mereka bertemu Kiko si Kumbang Kecil yang tampak sedih.


“Kenapa kamu murung?” tanya Lumi.


“Bunga-bunga di sini sakit. Aku tidak tahu harus bagaimana,” jawab Kiko.


Tara memeriksa bunga-bunga.

“Mereka kekurangan air dan serbuk sari.”


Bimo berkata, “Kita bisa membantu! Aku bisa membawa air dari sungai.”


Lumi berseru, “Aku akan memanggil lebah lain!”


Kiko terharu.

“Kalian sungguh baik. Aku akan membantu menjaga bunga-bunga ini.”


Keajaiban Kerja Sama


Beberapa hari kemudian, bunga-bunga mulai mekar kembali. Warna-warni cerah memenuhi lembah.


Kiko berseru gembira,

“Lihat! Bunganya hidup kembali!”


Lebah-lebah lain datang membantu. Nektar mengalir deras.


Tara tersenyum puas.

“Kita berhasil.”


Bimo mengangkat dada dengan bangga.

“Aku tidak menyangka bisa sejauh ini.”


Lumi tertawa.

“Kita hebat karena bersama!”


Kembali ke Istana Madu


Saat mereka kembali, Ratu Melira menyambut mereka dengan senyum hangat.


“Kalian telah menunjukkan arti persahabatan dan keberanian,” kata sang ratu.


Para lebah bertepuk sayap meriah.


Ratu Melira melanjutkan,

“Mulai hari ini, kalian bertiga akan dikenal sebagai Sahabat Penjaga Lembah.”


Lumi bersinar bangga.

“Kami melakukannya untuk semua.”


Bimo tersenyum lebar.

“Dan aku belajar bahwa takut itu tidak apa-apa.”


Tara berkata lembut,

“Selama kita saling percaya.”

Leave A Comment