Di sebuah hutan yang hijau dan luas, hiduplah seekor rubah bernama Rara. Bulu Rara berwarna jingga keemasan, ekornya lebat dan indah. Namun berbeda dari rubah lain yang terkenal licik, Rara memiliki hati yang sangat lembut.
Semua hewan di hutan sering berbisik-bisik tentangnya.
“Ah, itu pasti siasat saja,” kata Momo si Monyet suatu hari sambil bergelantungan di dahan.
“Rubah mana mungkin benar-benar baik,” sahut Kiko si Kelinci ragu.
Rara sering mendengar bisikan itu. Hatinya terasa sedih, tetapi ia tidak marah. Ia hanya tersenyum dan berkata pelan pada dirinya sendiri,
“Aku akan tetap berbuat baik. Suatu hari mereka pasti mengerti.”
Pertolongan di Tepi Sungai
Suatu pagi yang cerah, Rara berjalan menyusuri sungai. Tiba-tiba ia mendengar suara tangis kecil.
“Tolong… tolong…”
Rara berlari mendekat dan melihat Kiko si Kelinci terperosok di lumpur tepi sungai.
“Kiko! Pegang tanganku!” seru Rara.
Kiko ketakutan. “Jangan-jangan kamu mau memakanku setelah ini…”
Rara tersenyum lembut. “Kalau aku mau memakanmu, aku tak perlu repot menolongmu. Ayo, cepat pegang!”
Dengan ragu, Kiko mengulurkan kaki kecilnya. Rara menariknya kuat-kuat hingga akhirnya Kiko berhasil keluar dari lumpur.
“Terima… terima kasih,” ucap Kiko pelan.
“Sama-sama,” jawab Rara ceria. “Hati-hati lain kali, ya!”
Kiko memandangi Rara yang berjalan pergi. Untuk pertama kalinya, ia merasa mungkin saja Rara memang berbeda.
Fitnah di Tengah Hutan
Beberapa hari kemudian, terjadi kegemparan di hutan. Telur-telur milik Cici si Ayam hutan hilang dari sarangnya.
“Pasti ulah rubah!” teriak beberapa hewan.
Momo si Monyet menunjuk Rara. “Siapa lagi kalau bukan dia?”
Rara terkejut. “Bukan aku! Aku tidak pernah mengambil telur Cici.”
Cici menangis, “Aku tidak tahu harus percaya siapa…”
Rara menunduk, tetapi ia tidak membela diri dengan marah.
“Kalau begitu, izinkan aku membantu mencari pelakunya,” katanya tenang.
Hewan-hewan saling berpandangan. Akhirnya mereka setuju.
Jejak Misterius
Rara mengamati tanah di sekitar sarang. Ia memperhatikan jejak-jejak kaki kecil yang berbeda dari jejaknya.
“Lihat,” kata Rara sambil menunjuk. “Jejak ini bukan jejak kakiku. Ini lebih kecil dan memiliki tiga jari panjang.”
Momo mendekat. “Itu seperti jejak… biawak!”
Semua hewan terkejut.
Rara mengikuti jejak itu hingga ke semak-semak dekat batu besar. Di sana, mereka menemukan Bimo si Biawak sedang menyembunyikan telur-telur Cici.
Bimo kaget. “A-aku hanya lapar…”
Cici berkata dengan suara gemetar, “Kau seharusnya meminta, bukan mencuri.”
Bimo menunduk malu. “Maafkan aku…”
Rara berkata lembut, “Kita semua pernah salah. Yang penting mau mengakui dan memperbaiki.”
Hati yang Tersentuh
Momo mendekati Rara. “Maafkan kami sudah menuduhmu tanpa bukti.”
Kiko ikut berkata, “Kau bahkan tetap membantu meski kami tidak percaya padamu.”
Rara tersenyum hangat. “Aku tidak marah. Aku hanya ingin kita hidup damai.”
Sejak hari itu, pandangan hewan-hewan berubah. Mereka mulai menyapa Rara dengan ramah.
“Selamat pagi, Rara!” seru Cici.
“Terima kasih sudah menjadi teman yang baik,” kata Kiko.
Rara merasa hatinya hangat. Ia akhirnya diterima bukan karena ia rubah, tetapi karena kebaikannya.
Bahaya Besar Datang
Suatu malam, angin bertiup sangat kencang. Api kecil muncul dari ranting kering yang tersambar petir. Api itu mulai membesar!
“Asap! Asap!” teriak Momo dari atas pohon.
Hewan-hewan panik. Anak-anak hewan menangis ketakutan.
Rara segera berpikir cepat. “Semua ikut aku ke sungai! Kita harus menyeberang!”
“Tapi arusnya deras!” kata Kiko.
“Aku akan membantu satu per satu,” jawab Rara tegas.
Dengan berani, Rara bolak-balik membantu anak-anak hewan menyeberang. Bulunya basah kuyup, tubuhnya lelah, tetapi ia tak berhenti.
“Cepat, Cici! Gendong anak-anakmu!”
“Momo, bantu yang kecil!”
Akhirnya semua hewan berhasil menyeberang dengan selamat sebelum api mendekat.
Pengakuan Sang Raja Hutan
Keesokan paginya, Raja hutan, seekor rusa besar bernama Rangga, mengumpulkan semua hewan.
“Hari ini,” kata Rangga dengan suara berwibawa, “kita harus berterima kasih pada seseorang.”
Semua mata tertuju pada Rara.
“Tanpa keberanian dan kebaikan Rara,” lanjut Rangga, “mungkin kita tak lagi berkumpul di sini.”
Hewan-hewan bersorak, “Hidup Rara!”
Rara tersipu malu. “Aku hanya melakukan yang seharusnya dilakukan teman.”
Rangga tersenyum. “Dan itulah arti hati yang baik.”
Sejak saat itu, tak ada lagi yang memandang Rara dengan curiga. Ia bukan lagi “rubah licik”, melainkan “Si Rubah Berhati Baik”.
Dan setiap kali ada hewan baru datang ke hutan dan bertanya,
“Benarkah rubah itu jahat?”
Semua hewan akan menjawab serempak,
“Tidak di hutan ini. Di sini, ada Rara yang mengajarkan kami arti kebaikan.”
Pesan moral:
Jangan menilai seseorang dari penampilannya. Hati yang baik akan selalu bersinar, bahkan ketika disalahpahami.
Same In Category
- Yuk, Stimulasi Sensori dan Latih Kemandirian Si Kecil saat Belajar Mandi Sendiri!
- Yuk, Siapkan Perlengkapan Musim Hujan untuk Si Kecil
- Yuk, Pelajari Cara Mempercepat Pembukaan 1 Ke 10 Agar Persalinan Lancar
- Yuk, Ketahui Posisi Tidur Bayi agar Tidak Gumoh!
- Yuk, Kenali Cara Mendeteksi dan Penyebab Bayi Terlilit Tali Pusar
- Yuk, Kenalan dengan Metode Gentle Birth!
- Yuk Mom, Simak Cara Mencegah Anak Kelelahan selama Mudik Lebaran
- Yoga Hamil, Apa Manfaatnya untuk Janin?
- Yang Cepat Tak Selalu Baik, Ini Bahaya Bayi Duduk Sebelum Waktunya
- Willow Mom, Ini Dia Cara Mengatasi Biang Keringat Pada Bayi
Related Blogs By Tags
- Yuk, Stimulasi Sensori dan Latih Kemandirian Si Kecil saat Belajar Mandi Sendiri!
- Yuk, Siapkan Perlengkapan Musim Hujan untuk Si Kecil
- Yuk, Ketahui Posisi Tidur Bayi agar Tidak Gumoh!
- Yuk Mom, Simak Cara Mencegah Anak Kelelahan selama Mudik Lebaran
- Yang Cepat Tak Selalu Baik, Ini Bahaya Bayi Duduk Sebelum Waktunya
- Willow Mom, Ini Dia Cara Mengatasi Biang Keringat Pada Bayi
- Waspadai Penyakit yang Timbul setelah Anak Berenang
- Waspada! Kulit Bayi Rentan Infeksi Jamur saat Musim Hujan
- Waspada Penyakit Kawasaki pada Anak, Ini Gejala dan Cara Deteksinya
- Waspada Obesitas pada Bayi, Ini Cara Mengatasinya!

Leave A Comment