Di sebuah hutan yang sangat luas dan hijau, hiduplah berbagai macam hewan. Ada kelinci yang suka berlari, rusa yang anggun, burung-burung yang merdu suaranya, dan juga seekor kura-kura kecil bernama Kiko.
Kiko adalah kura-kura yang baik hati. Ia berjalan sangat pelan, tetapi selalu memperhatikan teman-temannya. Namun, karena jalannya lambat, sering kali ia ditinggalkan saat teman-temannya bermain.
Suatu sore, saat matahari mulai tenggelam, Kiko sedang berjalan pulang ke rumahnya yang berada di dekat danau kecil.
“Aduh… kenapa ya aku selalu paling belakang?” gumam Kiko pelan.
Tiba-tiba dari balik semak-semak muncul Lilo si kelinci.
“Eh Kiko! Kamu masih di sini? Kami tadi lomba lari sampai bukit!” kata Lilo sambil terengah-engah.
Kiko tersenyum kecil.
“Wah, pasti seru sekali. Sayang aku terlalu lambat untuk ikut.”
Lilo merasa sedikit bersalah.
“Maaf ya, Kiko… kami tidak bermaksud meninggalkanmu.”
Kiko hanya mengangguk.
“Tidak apa-apa, Lilo.”
Malam yang Sangat Gelap
Malam itu langit tertutup awan tebal. Bulan dan bintang tidak terlihat sama sekali. Hutan menjadi sangat gelap. Para hewan mulai merasa takut.
“Gelap sekali!” kata Mimi si tupai sambil memeluk ekornya.
“Aku tidak bisa melihat jalan pulang!” kata Roni si rusa kecil.
Burung-burung pun berhenti terbang karena tidak bisa melihat arah. Kiko yang sedang berjalan di dekat danau melihat sesuatu berkilau di air. Ia mendekat dengan penasaran.
“Hmm… benda apa ini?” kata Kiko.
Ia mengambil benda itu dengan hati-hati. Ternyata sebuah lampu kecil berbentuk bunga yang memancarkan cahaya kuning hangat.
“Wah! Lampu ini terang sekali!” kata Kiko kagum.
Ketika Kiko memegangnya, lampu itu menyala lebih terang.
Ide Kiko
Kiko tiba-tiba punya ide.
“Kalau lampu ini kubawa keliling hutan, teman-teman pasti bisa melihat jalan!” pikirnya.
Dengan langkah pelannya, Kiko mulai berjalan menyusuri hutan sambil membawa lampu itu di atas tempurungnya. Lampu itu bergoyang-goyang lembut dan menerangi jalan. Tak lama kemudian, ia bertemu Lilo si kelinci yang tampak kebingungan.
“Kiko! Syukurlah! Aku tidak bisa melihat jalan pulang!” kata Lilo panik.
Kiko tersenyum.
“Tenang saja, Lilo. Ikuti aku. Aku membawa lampu.”
Lilo menatap kagum.
“Wah! Kamu seperti… pembawa cahaya!”
Menolong Teman-Teman
Mereka berjalan bersama hingga menemukan Mimi si tupai yang duduk gemetar di dahan rendah.
“Mimi!” teriak Lilo.
Mimi melihat cahaya itu dan matanya berbinar.
“Ah! Ada cahaya! Siapa itu?”
Kiko menjawab lembut,
“Ini aku, Kiko. Ayo ikut kami.”
Mimi turun dari pohon.
“Terima kasih, Kiko! Kalau tidak ada lampu itu, aku pasti tidak berani turun.”
Perjalanan mereka berlanjut. Cahaya lampu Kiko menerangi jalan setapak, batu-batu kecil, dan akar pohon. Tak lama mereka menemukan Roni si rusa kecil yang hampir menangis.
“Aku tersesat…” kata Roni dengan suara gemetar.
Kiko berkata dengan tenang,
“Jangan takut, Roni. Ikuti cahaya lampu ini. Kita pulang bersama.”
Roni tersenyum lega.
“Terima kasih, Kiko!”
Kiko Menjadi Pahlawan Hutan
Semakin lama, semakin banyak hewan mengikuti Kiko. Ada burung pipit, landak kecil, bahkan keluarga rakun. Semua berjalan di belakang Kiko yang membawa lampu di atas tempurungnya.
“Pelan-pelan saja,” kata Kiko.
“Jalan di sini agak berbatu.”
Lilo berkata kagum,
“Kiko, ternyata berjalan pelan juga bagus. Kita jadi lebih hati-hati.”
Mimi menambahkan,
“Dan lampumu membuat kita semua merasa aman.”
Akhirnya mereka sampai di tengah hutan tempat semua hewan berkumpul.
Ratu Hutan Berterima Kasih
Di sana berdiri Bima si gajah tua, yang dianggap sebagai pemimpin hutan. Ia melihat cahaya dari jauh.
“Cahaya apa itu?” tanya Bima.
Saat Kiko mendekat, semua hewan bersorak.
“Itu Kiko!”
“Kiko membawa lampu!”
“Kiko menolong kami!”
Bima tersenyum hangat.
“Kiko, kamu telah menolong banyak teman malam ini.”
Kiko sedikit malu.
“Aku hanya membawa lampu ini saja.”
Bima berkata dengan suara lembut,
“Bukan hanya lampunya yang penting. Tetapi hatimu yang ingin menolong.”
Lilo berkata keras-keras,
“Mulai sekarang kita panggil Kiko Si Kura-Kura Pembawa Lampu!”
Semua hewan bertepuk tangan.
“Horeee!”
Pelajaran Penting
Malam itu, semua hewan pulang dengan selamat berkat cahaya lampu Kiko. Sejak saat itu, jika malam terlalu gelap, Kiko akan berjalan mengelilingi hutan membawa lampu di tempurungnya. Dan teman-temannya selalu berkata,
“Pelan bukan berarti tidak berguna.”
Karena terkadang, justru yang berjalan paling pelanlah yang membawa cahaya bagi semua. Kiko tersenyum setiap kali mendengar itu.
“Yang penting kita saling membantu,” kata Kiko.
Dan lampu kecil di tempurungnya terus bersinar hangat, menerangi hutan dan hati semua teman-temannya.
Same In Category
- Yuk, Stimulasi Sensori dan Latih Kemandirian Si Kecil saat Belajar Mandi Sendiri!
- Yuk, Siapkan Perlengkapan Musim Hujan untuk Si Kecil
- Yuk, Pelajari Cara Mempercepat Pembukaan 1 Ke 10 Agar Persalinan Lancar
- Yuk, Ketahui Posisi Tidur Bayi agar Tidak Gumoh!
- Yuk, Kenali Cara Mendeteksi dan Penyebab Bayi Terlilit Tali Pusar
- Yuk, Kenalan dengan Metode Gentle Birth!
- Yuk Mom, Simak Cara Mencegah Anak Kelelahan selama Mudik Lebaran
- Yoga Hamil, Apa Manfaatnya untuk Janin?
- Yang Cepat Tak Selalu Baik, Ini Bahaya Bayi Duduk Sebelum Waktunya
- Willow Mom, Ini Dia Cara Mengatasi Biang Keringat Pada Bayi
Related Blogs By Tags
- Yuk, Stimulasi Sensori dan Latih Kemandirian Si Kecil saat Belajar Mandi Sendiri!
- Yuk, Siapkan Perlengkapan Musim Hujan untuk Si Kecil
- Yuk, Ketahui Posisi Tidur Bayi agar Tidak Gumoh!
- Yuk Mom, Simak Cara Mencegah Anak Kelelahan selama Mudik Lebaran
- Yang Cepat Tak Selalu Baik, Ini Bahaya Bayi Duduk Sebelum Waktunya
- Willow Mom, Ini Dia Cara Mengatasi Biang Keringat Pada Bayi
- Waspadai Penyakit yang Timbul setelah Anak Berenang
- Waspada! Kulit Bayi Rentan Infeksi Jamur saat Musim Hujan
- Waspada Penyakit Kawasaki pada Anak, Ini Gejala dan Cara Deteksinya
- Waspada Obesitas pada Bayi, Ini Cara Mengatasinya!

Leave A Comment