Welcome, Mom/Dad!
google_button Or please Login / Register!
Dongeng Time: Si Landak yang Belajar Meminta Maaf

Dongeng Time: Si Landak yang Belajar Meminta Maaf

Di sebuah hutan yang hijau dan sejuk, hiduplah berbagai macam hewan yang rukun dan saling menyayangi. Ada Kelinci yang lincah, Tupai yang cerdik, Burung Pipit yang ceria, dan juga Landak kecil bernama Lando.

Lando adalah seekor landak mungil dengan duri-duri halus berwarna cokelat keemasan. Ia sebenarnya berhati baik, tetapi Lando punya satu kebiasaan buruk: ia mudah tersinggung dan jarang mau meminta maaf.


Jika merasa kesal atau malu, Lando lebih memilih pergi begitu saja daripada mengakui kesalahannya.


Lando dan Bola Daun


Suatu pagi yang cerah, Lando berjalan menuju lapangan kecil di tengah hutan. Di sana, Kelinci, Tupai, dan Landak sedang bermain bola daun—bola yang terbuat dari daun besar yang digulung rapi.


“Lando! Ayo ikut bermain!” seru Kelinci sambil melompat riang.


Lando tersenyum.

“Baik, aku ikut,” katanya.


Permainan pun dimulai dengan penuh tawa. Mereka saling mengoper bola daun sambil berlari-lari kecil.


“Oper ke aku, Lando!” teriak Tupai.


Lando mendorong bola itu dengan cukup keras. Namun, arah bola melenceng dan mengenai Burung Pipit yang sedang minum di pinggir lapangan.


“Duk!”

“Cit! Aduh!” Burung Pipit terjatuh dan air muncrat ke mana-mana.


Kelinci kaget.

“Lando! Bola itu kena Pipit!”


Burung Pipit bangkit sambil mengusap sayapnya.

“Aku tidak apa-apa, tapi tadi sakit sedikit…”


Semua menatap Lando, menunggu ia berkata sesuatu.


Namun Lando menunduk dan berkata pelan,

“Aku… aku tidak sengaja.”


Ia lalu berbalik dan berjalan pergi tanpa berkata apa-apa lagi.


“Lando!” panggil Tupai.

“Tunggu! Seharusnya kamu minta maaf,” kata Kelinci.


Namun Lando tetap pergi.


Hati yang Tidak Tenang


Di bawah pohon besar, Lando duduk sendirian. Angin sepoi-sepoi bertiup, tetapi hatinya terasa berat.


“Aku tidak sengaja,” gumamnya.

“Kenapa mereka menatapku seperti itu…”


Namun, di dalam hatinya, Lando merasa tidak nyaman. Ia teringat wajah Burung Pipit yang terkejut dan kesakitan.


Malam harinya, Lando tidak bisa tidur nyenyak. Ia bermimpi duri-durinya tumbuh semakin panjang hingga tidak ada yang mau mendekat.


“Aku sendirian…” kata Lando dalam mimpinya.


Ia terbangun dengan napas terengah-engah.


Nasihat Ibu Landak


Keesokan paginya, Ibu Landak melihat wajah Lando murung.


“Lando, kenapa wajahmu sedih?” tanya Ibu dengan lembut.


Lando terdiam sejenak, lalu menceritakan semuanya.


Ibu Landak mengangguk pelan.

“Lando, tidak sengaja memang bisa terjadi. Tapi meminta maaf bukan tanda kelemahan, melainkan tanda keberanian.”


Lando mengangkat kepala.

“Berani…?”


“Ya,” kata Ibu.

“Dengan meminta maaf, kita menunjukkan bahwa kita peduli pada perasaan orang lain.”


Lando berpikir dalam-dalam.


Masalah yang Lebih Besar


Siang harinya, Lando melihat Tupai dan Kelinci mencoba mengangkat keranjang buah milik Burung Pipit yang terjatuh dari dahan.


“Aduh, keranjangnya berat!” kata Tupai.


Lando ingin membantu, tetapi ragu.

“Kalau aku mendekat… apakah mereka mau menerimaku?”


Akhirnya Lando memberanikan diri.

“Boleh… aku membantu?”


Kelinci menoleh.

“Tentu saja boleh.”


Saat Lando mengangkat keranjang, duri-durinya tanpa sengaja menyobek keranjang.


“Wah!” seru Burung Pipit.

“Keranjangku rusak…”


Lando membeku. Semua mata tertuju padanya.


Jantung Lando berdebar kencang. Ia ingin pergi lagi seperti kemarin. Tapi ia teringat kata-kata Ibu Landak.


Ia menarik napas dalam-dalam.


Permintaan Maaf yang Tulus


“Teman-teman…” suara Lando bergetar.

“Aku minta maaf. Aku ceroboh dan merusak keranjangmu, Pipit.”


Burung Pipit menatapnya.

“Kamu… benar-benar minta maaf?”


Lando mengangguk.

“Aku juga minta maaf karena kemarin aku tidak meminta maaf setelah mengenai kamu dengan bola daun.”


Hening sejenak.


Lalu Burung Pipit tersenyum.

“Terima kasih, Lando. Aku memaafkanmu.”


Kelinci ikut tersenyum.

“Aku senang kamu berani meminta maaf.”


Tupai menepuk bahu Lando.

“Itu tindakan yang hebat, Lando!”


Hati Lando terasa hangat. Untuk pertama kalinya, ia merasa lega dan bahagia.


Belajar Memperbaiki Kesalahan


“Bagaimana kalau kita memperbaiki keranjang ini bersama?” usul Lando.


“Wah, ide bagus!” kata Tupai.


Mereka pun bekerja sama:

Tupai mengambil tali, Kelinci memegang keranjang, dan Lando dengan hati-hati membantu tanpa melukai lagi.


Sore itu, keranjang Burung Pipit kembali utuh.


“Terima kasih semuanya,” kata Burung Pipit senang.


Lando tersenyum lebar.

“Terima kasih juga karena sudah memaafkanku.”


Pelajaran untuk Si Landak Kecil


Sejak hari itu, Lando berubah.

Setiap kali ia melakukan kesalahan, ia berani berkata:


“Aku minta maaf.”

“Aku akan lebih berhati-hati.”


Teman-temannya pun semakin sayang padanya.


Suatu sore, Lando duduk bersama teman-temannya sambil menikmati matahari terbenam.


“Aku belajar sesuatu,” kata Lando.

“Meminta maaf membuat hati lebih ringan.”


Kelinci mengangguk.

“Dan membuat persahabatan semakin kuat.”


Mereka tertawa bersama, dikelilingi cahaya senja yang hangat.

Leave A Comment