Di sebuah hutan yang luas dan hijau, terdapat sebuah lembah yang dipenuhi bunga liar. Pada siang hari, lembah itu tampak sangat indah. Kupu-kupu berwarna-warni beterbangan di antara bunga, burung-burung bernyanyi dari atas pohon, dan sungai kecil mengalir jernih melewati bebatuan.
Namun, ketika malam tiba, lembah itu berubah menjadi tempat yang gelap dan sunyi. Di salah satu bagian hutan tersebut, hiduplah seekor rusa kecil bernama Rara bersama ibunya.Rara memiliki tubuh mungil, kaki ramping, dan sepasang mata besar yang selalu dipenuhi rasa ingin tahu. Ia adalah rusa kecil yang ceria, tetapi ada satu hal yang sangat ditakutinya.
Kegelapan
Setiap malam, ketika Matahari tenggelam dan bayangan pohon mulai memanjang, Rara selalu berlari pulang. Ia tidak berani berjalan sendirian setelah hari menjadi gelap. Suatu malam, ketika mereka sedang beristirahat di bawah pohon besar, Rara memandangi langit.
Bulan tampak sangat indah. Cahayanya menerangi daun-daun dan membuat rerumputan terlihat seperti ditaburi perak.
"Ibu, kenapa Bulan bisa bersinar?" tanya Rara.
Ibunya tersenyum. "Bulan memang tidak memiliki cahaya sendiri. Ia memantulkan cahaya Matahari. Karena itu, meskipun malam gelap, kita masih bisa melihat cahaya Bulan."
Rara menatap Bulan dengan kagum. "Kalau begitu, Bulan seperti lampu besar di langit?"
"Benar," jawab ibunya. "Dan cahaya kecilnya bisa membantu banyak makhluk."
Rara tersenyum. Ia mulai menyukai Bulan. Namun, ia masih takut pada gelap.
Malam Ketika Rara Tersesat
Beberapa hari kemudian, Rara bermain bersama teman-temannya di dekat padang rumput. Mereka berlari mengejar kupu-kupu, melompati batang kayu, dan bermain di tepi sungai. Tanpa terasa, Matahari mulai turun. Teman-teman Rara segera pulang.
"Aku juga harus pulang!" kata Rara.
Ia berlari menuju tempat tinggalnya. Namun karena terlalu terburu-buru, Rara mengambil jalan yang salah.
Ia terus berjalan melewati pepohonan hingga akhirnya menyadari bahwa tempat itu tidak dikenalnya. Rara berhenti. Ia melihat ke kanan. Tidak ada ibunya. Ia melihat ke kiri. Tidak ada jalan yang dikenalnya. Langit semakin gelap.
"Oh tidak...", Rara mulai panik.
"Ibu!"
Ia berlari ke sebuah tempat yang menurutnya bisa menjadi jalan pulang, tetapi semakin jauh ia berjalan, hutan justru semakin asing.
Akhirnya malam benar-benar tiba. Rara berdiri sendirian di antara pepohonan. Suara jangkrik terdengar dari segala arah. Angin berembus melewati dedaunan.
Krek...
Ranting patah di belakangnya. Rara terkejut dan langsung berbalik.
"Siapa di sana?", Tidak ada jawaban. Tubuhnya mulai gemetar.
"Aku takut...", Ia menundukkan kepala dan mulai menangis.
Burung Hantu Tua
Tiba-tiba terdengar suara dari atas pohon. "Huuu... huu..."
Rara mendongak. Seekor burung hantu tua sedang bertengger di sebuah dahan. "Kenapa kamu sendirian di tengah hutan?"
Rara mengusap air matanya. "Aku tersesat. Aku ingin pulang, tapi aku tidak tahu jalan."
Burung hantu itu turun ke dahan yang lebih rendah. "Namaku Owi. Jangan takut. Aku akan menemanimu."
Rara masih terlihat cemas. "Tapi hutan sangat gelap."
Owi menunjuk ke langit. "Lihat ke atas."
Rara perlahan mendongak. Bulan sedang muncul di antara awan. Cahayanya jatuh di antara pepohonan.
"Indah sekali..." bisik Rara.
"Selama Bulan masih bersinar, kamu tidak benar-benar sendirian," kata Owi.
Rara memandangi cahaya Bulan. Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa sedikit lebih tenang.
Perjalanan di Bawah Cahaya Bulan
Owi membantu Rara mencari jalan pulang. Mereka berjalan melewati hutan yang diterangi cahaya Bulan. Rara mulai memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia lihat.
Bunga-bunga malam bermekaran. Kunang-kunang beterbangan seperti bintang kecil. Sungai memantulkan cahaya Bulan sehingga permukaannya tampak seperti kaca berwarna perak.
"Selama ini aku selalu takut melihat hutan di malam hari," kata Rara.
Owi tersenyum. "Kadang sesuatu terlihat menakutkan hanya karena kita belum mengenalnya."
Mereka terus berjalan. Tiba-tiba terdengar suara tangisan.
"Hei... apakah kamu mendengar itu?" tanya Rara.
Owi mengangguk. Mereka mengikuti suara tersebut dan menemukan seekor anak kelinci yang terjebak di antara akar pohon.
"Aku tidak bisa keluar," kata kelinci kecil itu.
Rara segera menghampirinya.
"Jangan takut. Kami akan membantumu."
Rara menggunakan tanduk kecilnya untuk mendorong ranting yang menghalangi. Owi membantu dari atas dengan mencabut beberapa ranting menggunakan paruhnya. Akhirnya kelinci kecil itu berhasil keluar.
"Terima kasih!" serunya bahagia.
Rara tersenyum. Sebelumnya ia datang dengan rasa takut. Sekarang ia justru bisa membantu makhluk lain.
Jembatan yang Hilang
Mereka melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian, mereka sampai di sungai yang cukup lebar. Biasanya terdapat sebuah jembatan kayu di sana. Tetapi malam itu jembatan tersebut rusak karena hujan deras beberapa hari sebelumnya. Rara memandang sungai dengan cemas.
"Bagaimana kita menyeberang?"
Owi berpikir sejenak.
"Ikuti sungai ke arah sana. Mungkin ada tempat yang lebih dangkal."
Mereka berjalan menyusuri tepi sungai. Cahaya Bulan membantu mereka melihat bebatuan di dalam air. Akhirnya Rara menemukan bagian sungai yang dangkal.
"Aku bisa menyeberang di sini!"
Rara melangkah perlahan dari satu batu ke batu lainnya. Namun salah satu batu ternyata licin. Kakinya terpeleset.
"Ah!"
Tubuh Rara hampir jatuh ke sungai. Untungnya Owi segera menarik perhatian seekor berang-berang yang sedang berada tidak jauh dari sana. Berang-berang itu membantu Rara mencapai tepian.
"Terima kasih," kata Rara lega.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.
Rahasia Cahaya Bulan
Semakin jauh mereka berjalan, Rara semakin berani. Ia tidak lagi terus-menerus melihat ke belakang. Ia mulai menikmati malam. Ketika mereka berhenti di sebuah bukit kecil, Rara memandang Bulan.
"Owi..."
"Ya?"
"Kenapa cahaya Bulan membuatku tidak takut lagi?"
Owi tersenyum.
"Karena cahaya bukan hanya sesuatu yang bisa kita lihat. Cahaya juga bisa memberi keberanian."
Rara terdiam. Ia mengingat bagaimana tadi ia takut ketika tersesat. Namun ketika melihat cahaya Bulan, ia berani melangkah. Ia bahkan membantu anak kelinci.
"Jadi... mungkin aku sebenarnya tidak sepenakut yang kukira."
"Tepat sekali," jawab Owi.
Pertemuan yang Mengharukan
Setelah berjalan cukup jauh, Rara akhirnya mengenali tempat di sekitarnya. Pohon besar dengan batang bercabang tiga. Batu besar berbentuk seperti bulan sabit. Dan di kejauhan terlihat padang rumput tempat ia tinggal.
"Ibu!"
Rara berlari secepat mungkin. Di bawah pohon dekat rumah mereka, seekor rusa betina sedang mondar-mandir dengan wajah cemas.
"Rara!"
Ibunya segera berlari menghampiri. Rara langsung memeluk ibunya.
"Ibu!"
"Ke mana saja kamu? Ibu sangat khawatir!"
"Maaf, Bu. Aku tersesat."
Ibunya memeluk Rara erat.
"Kamu tidak apa-apa?"
Rara mengangguk.
"Aku baik-baik saja. Ada Owi yang menemaniku."
Ibunya menoleh kepada burung hantu tua itu.
"Terima kasih sudah menjaga anakku."
Owi tersenyum.
"Rara sendiri yang sebenarnya menemukan keberaniannya."
Rara menatap Bulan yang masih bersinar di langit.
Rara Tidak Lagi Takut
Sejak malam itu, Rara berubah. Ia masih berhati-hati ketika berjalan di hutan, tetapi ia tidak lagi menganggap malam sebagai sesuatu yang menakutkan. Ia belajar bahwa hutan memiliki keindahan yang berbeda ketika Matahari telah tenggelam. Ada bunga yang baru mekar saat malam. Ada kunang-kunang yang menerangi semak. Ada suara jangkrik yang menjadi musik bagi hutan. Dan tentu saja, ada cahaya Bulan yang selalu menemani.
Beberapa minggu kemudian, Rara kembali berjalan di bawah cahaya Bulan bersama ibunya.
"Ibu," katanya sambil tersenyum, "sekarang aku tidak takut lagi pada malam."
Ibunya menatap Rara dengan bangga.
"Kenapa?"
Rara memandang ke langit.
"Karena aku tahu, bahkan ketika keadaan terlihat gelap, selalu ada cahaya yang bisa menunjukkan jalan."
Ibunya tersenyum dan mencium kepala Rara. Malam itu, mereka berjalan pulang bersama. Bulan bersinar terang di atas pepohonan. Cahayanya menyentuh punggung Rara yang kecil dan membuat bayangannya memanjang di atas rerumputan.
Rara tersenyum. Ia akhirnya memahami bahwa keberanian bukan berarti tidak pernah merasa takut. Keberanian adalah tetap melangkah meskipun rasa takut masih ada. Dan sejak malam ketika ia tersesat itu, Rara selalu memandang Bulan bukan hanya sebagai cahaya di langit, tetapi sebagai pengingat bahwa selalu ada harapan, bahkan di tengah kegelapan.
Same In Category
- Yuk, Stimulasi Sensori dan Latih Kemandirian Si Kecil saat Belajar Mandi Sendiri!
- Yuk, Siapkan Perlengkapan Musim Hujan untuk Si Kecil
- Yuk, Pelajari Cara Mempercepat Pembukaan 1 Ke 10 Agar Persalinan Lancar
- Yuk, Ketahui Posisi Tidur Bayi agar Tidak Gumoh!
- Yuk, Kenali Cara Mendeteksi dan Penyebab Bayi Terlilit Tali Pusar
- Yuk, Kenalan dengan Metode Gentle Birth!
- Yuk Mom, Simak Cara Mencegah Anak Kelelahan selama Mudik Lebaran
- Yoga Hamil, Apa Manfaatnya untuk Janin?
- Yang Cepat Tak Selalu Baik, Ini Bahaya Bayi Duduk Sebelum Waktunya
- Willow Mom, Ini Dia Cara Mengatasi Biang Keringat Pada Bayi
Related Blogs By Tags
- Yuk, Stimulasi Sensori dan Latih Kemandirian Si Kecil saat Belajar Mandi Sendiri!
- Yuk, Siapkan Perlengkapan Musim Hujan untuk Si Kecil
- Yuk, Ketahui Posisi Tidur Bayi agar Tidak Gumoh!
- Yuk Mom, Simak Cara Mencegah Anak Kelelahan selama Mudik Lebaran
- Yang Cepat Tak Selalu Baik, Ini Bahaya Bayi Duduk Sebelum Waktunya
- Willow Mom, Ini Dia Cara Mengatasi Biang Keringat Pada Bayi
- Waspadai Penyakit yang Timbul setelah Anak Berenang
- Waspada! Kulit Bayi Rentan Infeksi Jamur saat Musim Hujan
- Waspada Penyakit Kawasaki pada Anak, Ini Gejala dan Cara Deteksinya
- Waspada Obesitas pada Bayi, Ini Cara Mengatasinya!

Leave A Comment