Dikisahkan, hiduplah seekor semut yang hidup di sebuah kebun sekolah. Hari itu, mentari bersinar begitu cerahnya. Ia pun memutuskan untuk pergi berkeliling dan menyusuri kebun sekolah tempat ia berada.
Kebun tersebut sangatlah indah. Ada bunga penuh warna-warni dimana-mana. Si semut sangat bahagia terlebih karena dengan kaki dan tubuh yang ia miliki, dirinya dapat bebas bergerak sambil menikmati keindahan kebun sekolah.
Sewaktu berjalan-jalan, si semut juga tidak lupa menyapa hewan-hewan lain yang berada di kawasan tersebut. Dalam perjalannya, perhatian si semut tiba-tiba teralihkan. Dirinya melihat ada kepompong yang menggantung di salah satu ranting sebuah pohon. Hewan tersebut pun berhenti dan memandangnya sejenak.
Namun, bukan ucapan baik yang keluar dari mulut semut. Ia malah mengejek rupa buruk dari kepompong tersebut. Si semut juga sangat menyayangkan nasib kepompong yang tidak bisa kemana-mana dan hanya menggantung di ranting pohon.
“Hai, Kepompong! Alangkah buruk nasibmu. Kamu hanya bisa berdiam dan tergantung disitu. Ayo, jalan-jalan! Lihat kebun sekolah yang luas dan indah ini!”, ejek semut.
Mendengar perkataan semut, kepompong tentu tidak bisa melawan. Ia hanya terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Di hari yang lain, si semut kembali mengelilingi kebun sekolah. Namun, tiba-tiba turun hujan. Akibatnya, kebun sekolah tersebut dipenuhi oleh lumpur. Tak disangka, ketika si semut tengah berjalan-jalan, ia pun tergelincir dan jatuh ke dalam kubangan lumpur. Lantas, dirinya berteriak sekuat mungkin untuk meminta pertolongan.
“Tolong bantu aku! Aku mau tenggelam! Tolong, tolong!”, teriak semut. Meski dirinya sudah berusaha sekuat tenaga berteriak, tidak ada hewan yang kunjung datang untuk menolongnya.
Namun, tiba-tiba datanglah seekor kupu-kupu cantik yang terbang melintas sambil membawa ranting. Ternyata, hewan tersebut datang untuk menyelamatkan si semut.
“Semut! Peganglah erat-erat ranting itu, aku akan mengangkatmu”, ucap kupu-kupu.
Semut pun meraih dan memegang erat ranting tersebut. Dengan sekuat tenaga, kupu-kupu mengangkat tubuh semut dari kubangan lumpur dan menurunkannya di tempat yang lebih aman.
Karena sudah ditolong, si semut pun berterima kasih kepada kupu-kupu karena telah menyelamatkan nyawanya. Namun tanpa ia sadari, kupu-kupu tersebut adalah kepompong yang dulu pernah diejeknya.
“Aku adalah kepompong yang pernah kau ejek”, ucap hewan bersayap tersebut.
Mendengar ini, si semut pun merasa bersalah. Dirinya berjanji untuk tidak lagi mengejek hewan-hewan yang hidup di kebun sekolah tersebut.
Same In Category
- Yuk, Stimulasi Sensori dan Latih Kemandirian Si Kecil saat Belajar Mandi Sendiri!
- Yuk, Siapkan Perlengkapan Musim Hujan untuk Si Kecil
- Yuk, Pelajari Cara Mempercepat Pembukaan 1 Ke 10 Agar Persalinan Lancar
- Yuk, Ketahui Posisi Tidur Bayi agar Tidak Gumoh!
- Yuk, Kenali Cara Mendeteksi dan Penyebab Bayi Terlilit Tali Pusar
- Yuk, Kenalan dengan Metode Gentle Birth!
- Yuk Mom, Simak Cara Mencegah Anak Kelelahan selama Mudik Lebaran
- Yoga Hamil, Apa Manfaatnya untuk Janin?
- Yang Cepat Tak Selalu Baik, Ini Bahaya Bayi Duduk Sebelum Waktunya
- Willow Mom, Ini Dia Cara Mengatasi Biang Keringat Pada Bayi
Related Blogs By Tags
- Tutupi Wajah Anak dengan Stiker Emoji Tak Lagi Aman, Ini Alasannya
- Tips Agar Bayi Tidak Mudah Takut pada Orang Asing
- Si Kuda Laut Penjelajah
- Si Kecil Menolak Makan Kalau Nggak Sambil Nonton, Bagaimana Sih Mengatasinya?
- Si Burung Hantu Penjaga Hutan
- Inilah 4 Jenis Pola Asuh Anak, Mana yang Willow Mom Pilih?
- Dongeng: Rumah Kecil di Padang Rumput
- Dongeng: Ali Baba dan Empat Puluh Pencuri
- Dongeng Time: Wortel yang Sangat Besar
- Dongeng Time: Ulat Bulu yang Lapar

Leave A Comment